Genre: Chick Lit
About M_AdzaniaLocation: Yogyakarta, Indonesia Home Region: Age:29 Website: http://penabuluangsa.blogspot.com Favorite novels: Burung-burung Manyar, Harry Potter and the prisoner of Azkaban, Discworld The Reaper Man Favorite writers: Jane Austen, YB Mangunwijaya, Terry Pratchett Favorite music: Anything Non-noveling interests: Dogs, traveling. |
Joined: October 27, 2009 This Year: Official Participant NaNoWriMo History: NaNoWriMo posts: 43 NaNoWriMo buddies: 16
|
|
Brief Author Bio: I used to write to escape, now I am trying to stop escaping from my writing. |
|
Synopsis: Bianglala
Kalau Aria harus berurusan dengan brondong posesif, Nina harus memilih antara cinta pertama dan pria yang tepat.
Excerpt: Bianglala
“Lu suka gombal sama cewek ya?” Tanya Aria. Dunar menggeleng.
“Buat apa?” Dunar balas bertanya. Sejauh ini mengandalkan segi tampang dan kesabaran, ia selalu berhasil mendekati perempuan.
Aria menutup separuh wajahnya dengan telapak tangan, berusaha menahan tawa yang sepertinya mudah sekali keluar dari bibirnya malam itu. Jelas akibat alkohol.
“Kenapa ketawa sih?” Tanya Dunar.
“You’re cute,” jawab Aria jujur. Dunar tersenyum lebar, memamerkan giginya yang rapi.
Mereka lantas membicarakan musik, karena home band kafe itu meriah sekali memainkan lagu-lagu latin. Si empunya pesta sudah hampir sejam menari-nari gembira bersama beberapa tamu undangannya dan juga pengunjung kafe lainnya.
“Kayaknya seru tuh. Mau ikutan?” Tanya Dunar sambil menoleh melalui pundak kirinya.
Aria tertawa kecil. “Kamu bisa salsa?”
“Ya.”
“Bohong! You don’t look like a dancer to me.”
“Memangnya apa ciri-ciri dancer?”
“Pinggulnya seksi.”
“Have you seen my hips moving?” Dunar bertanya lagi. Aria semakin terkikik. “Kok malah kenceng ketawanya?”
“No. I don’t wanna dance,” tolak Aria sambil tertawa-tawa.
“Salsa itu gampang kok. You know what, I’ll lead. It’s very easy,” rayu Dunar. Aria menggeleng-geleng sambil menggumam “no, no, no, no”.
“Ayolah,” bujuk Dunar lagi sambil mengedipkan sebelah mata. “So I can show off my sexy hips.”
Aria semakin terpingkal-pingkal.
“Sorry, Dunar. Bukannya gue gak bisa Salsa. You see these shoes? They’re not made for dancing,” Aria memberi alasan. Yang juga memberikan alasan Dunar untuk menyentuh betis Aria dan membelainya hingga mata kaki.
“Then, take it off,” kata Dunar.
Aria menyipitkan mata menatap wajah Dunar. Dunar menyipitkan mata balik.
“I’ll take mine off too,” bujuk Dunar lagi.
Aria menggigit bibir bawahnya. Dunar menahan diri untuk tidak melakukan hal yang sama. Pada bibir bawah Aria.
Maka tak sampai lima menit kemudian mereka berdua sudah menari-nari telanjang kaki di tengah kafe bersama orang-orang lainnya. Aria dibuat takjub bahwa Dunar benar-benar bisa menari Salsa. Setelah tiga lagu, dengan badan basah keringat mereka duduk di teras kafe, menyeruput minuman dingin.
“You really can dance,” kata Aria sambil mengangguk-angguk. Beberapa helai rambutnya lengket di kulit punggungnya yang basah.
“I try to keep it a secret, actually. Nggak cocok sama imej anak band,” gurau Dunar.
“Yes. No. Ya Tuhan, celana lu itu gak banget deh,” ceplos Aria akhirnya sambil tertawa. Dunar memasang wajah tersinggung, tapi hanya sebentar. Ia ikut tertawa.
“Kenapa memangnya? I think they’re cool,” sahutnya sambil mengangkat bahu.
Aria menggeleng-geleng. “Untung kamu cute.”
M_Adzania's Writing Buddies
|
|


add as buddy
send NaNoMail
visit website